Landasan Psikologi : Teori Belajar dan Makna Belajar dalam Pendidikan






Oleh :





Riska                  (1888203036)


Shinta Silvia      (1888203008)


Vira Afriani       (1888203009)





Dosen Pengampu :


Mustakim JM., M.Pd





Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan


Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris


Universitas Lancang Kuning


2018



KATA PENGANTAR



Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.


Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai sumber sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.

 

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

 

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Landasan Psikologis Pendidikan : Teori Belajar dan Makna Belajar dalam Pendidikan” ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

 

                                                                       


         Pekanbaru, 11Oktober  2018

 



                                                                                                 Penyusun





DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR


DAFTAR ISI


BAB I PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang


1.2. Rumusan Masalah


1.3. Tujuan


BAB II PEMBAHASAN


2.1.      Pengertian Psikologi Pendidikan


2.2.      Psikologi Belajar


2.3.      Teori Belajar


2.4.      Makna Belajar


BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan


3.2. Saran


DAFTAR PUSTAKA



 DAFTAR ISI



BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar Belakang


Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Aspek kejiwaan manusia yang juga dikaji khusus dalam ilmu psikologi juga memberikan banyak masukan yang dapat diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Pentingnya masalah psikologi dalam pendidikan juga memunculkan kajian ilmu psikologi tersendiri yaitu psikologi pendidikan


Beberapa cabang ilmu psikologi memberikan masukan yang dapat digunakan dalam dunia pendidikan. Konsep-konsep dalam psikologi sosial yang mempelajari manusia yang merespon dan hidup dalam bingkai sosial memberikan masukan yang dapat digunakan para guru dan para siswa dalam melaksanakan peran dalam hidup bermasyarakat. Demikian halnya dengan psikologi belajar yang memberikan banyak masukan bagaimana melaksanakan belajar yang efektif atau psikologi perkembangan yang memberikan masukan kepada dalam mempelajari tahap dan proses perkembangan manusia, cabang-cabang psikologi ini juga memberikan sumbangsih dalam memberikan masukan sebagai sebuah landasan dalam pendidikan.


1.2. Rumusan Masalah


1.2.1              Apakah pengertian psikologi pendidikan?


1.2.2              Apakah yang dimaksud teori belajar?


1.2.3              Apasaja Teori belajar itu?


1.2.4              Apa perbedaan teori belajar klasik dan modern


1.2.5              Apakah yang dimaksud makna belajar?


1.3. Tujuan


1.3.1              Mengetahui  pengertian landasan psikologi pendidikan


1.3.2              Mengetahui tentang teori belajar


1.3.3              Mengetahui apa saja teori belajar tersebut


1.3.4              Mengetahui perbedaan antara teori belajar modern dan klasik


1.3.5              Mengetahui tentang makna belajar




BAB IIPEMBAHASAN



2.1.      Pengertian Psikologi Pendidikan


Menurut Pidarta (2007:194) Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis pendidikan merupakan suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu dalam upaya mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.


Psikologi berasal dari kata Yunani “psyche” yang artinya jiwa. Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti : “ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya”. Namun pengertian antara ilmu jiwa dan psikologi sebenarnya berbeda atau tidak sama (Yudhawati dan Dani Haryanto, 2011:1).


·         Ilmu jiwa adalah  ilmu jiwa secara luas termasuk khayalan dan spekulasi tentang jiwa itu.


·     Ilmu psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah.


Psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala kejiwaan yang ditampakkan dalam bentuk perilaku baik manusia ataupun hewan yang pemanfaatannya untuk kepentingan manusia ataupun aktivitas-aktivitas individu baik yang disadari ataupun yang tidak disadari yang diperoleh melalui suatu proses atau langkah-langkah ilmiah tertentu serta mempelajari penerapan dasar-dasar atau prinsip-prinsip, metode, teknik, dan pendekatan psikologis untuk memahami dan memecahkan masalah-masalah dalam pendidikan. Kondisi psikologis adalah kondisi karakteristik psikofisik manusia sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksinya dengan lingkungan. Perilaku merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupan baik yang tampak maupun tidak tampak, seperti perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik.


·         Kognitif yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran kata pikiran terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.


·         Afektif yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup.


·         Sikomotorik yaitu kemepuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks,  penyesuaian pola gerakan dan kreativitas.


Menurut Sugihartono dkk (dalam Irham dan Novan, 2013:19) pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses pengajaran dan pelatihan. Dengan demikian pendidikan merupakan usaha manusia mengubah prilaku menuju kedewasaan dan mandiri melalui kegiatan yang direncanakan dan sadar dengan pembelajaran yang melibatkan pendidik dan peserta didik.


Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar (Tirtarahardja & Sulo, 2008: 106). Kecerdasan umum (intelegensi) atau kecerdasan dalam bidang tertentu (bakat) dipengaruhi oleh kemampuan potensial, namun kemampuan potensial itu hanya akan aktual apabila dikembangkan dalam situasi yang kondusif. Kecerdasan aktual terbentuk karena adanya pengalaman.



Definisi psikologi pendidikan menurut Whiteringtone (dalam Irham dan Novan, 2013:18) adalah sebuah studi yang sistematis tentang faktor-faktor dan proses kejiwaan yang berhubungan dengan pendidikan manusia. Sebagai cabang ilmu psikologi, psikologi pendidikan mempelajari tentang penerapan berbagai teori-teori psikologi dalam dunia pendidikan terhadap peserta didik dan pendidik dalam proses pembelajaran. Aplikasi dalam praktik proses pembalajaran diwujudkan dalam usaha-usaha yang dilakukan pendidik untuk memunculkan sikap dan prilaku diharapkan, atau mengurangi bahkan menghilangkan sikap dan prilaku yang tidak diinginkan pada peserta didik selama proses pembelajaran.


Psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi yang dalam penguraian dan penelitiannya lebih menekankan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mental, yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar.


2.2.      Psikologi Belajar


Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku.  Kedua, perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar.


Definisi Belajar “ Learning is a change in human disposition or capability that persist over a periode of time and is not simply ascribable to proccess” atau belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan. (Gagne, 1985dalam Modul UT, 2004:1.2).


Belajar adalah perubahan prilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya kepada orang lain.


Prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai berikut:


1.   Kontiguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik   tentang respon anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturut-turut.


2.     Pengulangan, situasi dan respon anak  diulang-diulang atau dipraktikkan agar  belajar lebih sempurna dan lebih tahan lama diingat.


3.    Penguatan, respons yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan         dan menguatkan respons itu.


4.   Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar


5.    Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktifitas anak- anak.


6.    Ada upaya membangkitkan ketrampilan intelektual untuk belajar, seperti apersepsi dalam mengajar.


7.    Ada strategi yang tepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam faktor dalam pengajaran.


8.    Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam  pengajaran.


Tiga poin pertama merupakan faktor-faktor eksternal dan poin ke-4 sampai poin 8 merupakan faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan belajar. Faktor eksternal lebih banyak ditangani oleh guru, sedangkan faktor internal dikembangkan sendiri oleh anak dibawah arahan dan strategi mengajar dalam mendidik.


2.3.      Teori Belajar


Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola  tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini selanjutnya lazim disebut denganTeori Belajar.


Teori belajar yang telah disusun secara sistematik (Callahan 1983, dalam Made Pidarta 2013) adalah sebagai berikut :


a.                Teori Belajar Klasik:


Teori-teori klasik diperoleh oleh seorang ahli sosiologi Rusia bernama Ivan Pavlo pada awal tahun 1900an. Untuk mengahasilkan teori ini Ivan Pavlo melakukan suatu eksperimen secara sistematis dan seintifik, dengan tujuan mengakaji bagaimana pembelajaran berlaku pada suatu organisme.


Pavlo melakukan suatu eksperimen terhadap anjing. Dia meletakkan secara rutin bubur daging didepan mulut anjing. Anjing mengeluarkan air liur. Air liur yang dikeluarkan oleh anjing merupakan suatu stimulus yang diasosiasikan dengan makanan. Pavlo juga menggunakan loncong sebelum makanan diberikan.


Berdasarkan hasil ekperimen Pavlo diperoleh suatu kesimpulan bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal dengan teori pengkodisian klasik.


Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus. (santrock, 2010). Dalam pengkondisian klasik stimulus netral (seperti melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (seperti makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk menghasilkan respon yang sama.


Dalam teori pengkondisian klasik ada dua tipe stimulus dan dua tipe respon yaitu:


a.        Unconditioned stimulus adalah sebuah stimulus yang secara otomatis mengahasilkan respon tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Pavlov makanan adalah US.


b.       Unconditioned respon adalah respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US, dalam ekperimen Pavlo air liur anjing yang merespon makanan adalah UR.


c.        Conditioned stimulus adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya mengahasilkan CR setelah diasosiasi dengan US. Dalam eksperimen pavlo beberapa penglihatan dan suara yang terjadi dalam anjing menyantap makanan.


d.       conditioned  respon adalah respon yang dipelajari yang muncul setelah terjadi pasangan US –CS.


Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlo diperoleh kesimpulan


bekenaan dengan beberapa cara perubahan tingkah laku yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, yaitu:


1)   Generalization (generelisasi)


Adalah pengaruh dari stimulus yang baru untuk menghasilkan respon yang sama. Misalnya: murid dimarahi karena ujian biologinya buruk. Saat murid untuk ujian kimia dia juga akan menjadi gugup karena dua pelajaran tersebut saling berkaitan. Jadi murid menggeneralisasikan satu ujian mata pelajaran denga mata pelajran yang lain.


2)        Discrimination


Descrimination dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespon stimulus tertentu tetapi tidak merespon stimulus lainya. Dalam kasus murid yang mengikuti ujian dikelas, dia begitu gugup saat menempuh ujian pelajaran bahasa indonesia atau sejarah karena kedua mata pelajaran tersebut jauh berbeda dengan mata pelajaran kimia dan biologi.


3)              Pelenyapan


Suatu stimulus yang dikodisikan tidak diikuti dengan stimulus yang tidak dikondisikan, lama-kelamaan organisme tidak akan merspon. Ini berarti bahwa respon secara bertahap terhapus.murid yang gugup mengikuti ujian akan mulai menempuh tes dengan lebih baik, dan kecemasannya mereda.


Pembelajaranan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Pembelajaran tradisional merupakan pembelajaran dimana secara umum, pusat pembelajaran berada pada guru, dan menempatkan siswa sebagai objek dalam belajar. Jadi, disini guru berperan sebagai orang yang serba bisa dan sebagai sumber belajar. Pembelajaran tradisional ini dekenal dengan pembelajaran behavioristik.


Sistem pembelajaran tradisional memiliki ciri bahwa pengelolaan pembelajaran ditentukan oleh guru. Peran siswa hanya melakukan aktifitas sesuai dengan petunjuk guru. Model tradisional ini lebih menitik beratkan upaya atau proses menghabiskan materi pelajaran, sehingga model tradisional lebih berorientasi pada teks materi pelajaran. Guru cenderung menyampaikan materi saja, masalah pemahaman atau kualitas penerimaan materi siswa kurang mendapatkan perhatian secara serius.


            Beberapa contoh teori belajar dengan menggunakan teori klasik :


1.        Teori Belajar Disiplin mental Theistik berasal dari Psikologi Daya atau Psikologi Fakulti. Menurut teori ini individu atau anak memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, perhatian, kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan, dan sebagainya. Masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan. Sehingga belajar juga kadang disebut melatih daya.


2.         Teori Belajar Disiplin Mental Humanistik bersumber dari aliran Psikologi Humanistik Klasik ciptaan Plato dan Aristoteles. Teori ini sama seperti teori disiplin Theistik, semakin sering melatih daya, maka daya akan semakin kuat, dengan daya yang kuat, kemampuan memecahkan berbagai permasalahan, yang berbeda hanya pada proses latihannya. Pada Disiplin Theistik, melatih daya anak hanya pada bagian demi bagian dari potensi anak, Disiplin Humanistik menekankan pada keseluruhan sebagai potensi individu secara utuh.


3.        Teori Belajar Naturalis atau Aktualisasi diri pangkal dari Psikologi Naturalis Romantik yang dipimpin oleh Rousseau. Menurut teori ini setiap anak memiliki sejumlah potensi atas kemampuan. Kemampuan pada anak selain dilatih oleh guru, harus dikembangkan oleh anak itu sendiri. guru dan lingkungan harus menciptakan siatuasi yang permisif atau rileks, sehingga anak dapat berkembang secara bebas dan alami.


4.         Teori Belajar Apersepsi berasal dari Psikologi Struktur ciptaan Herbart. Psikologi memandang, jiwa manusia merupakan struktur yang bisa berubah dan bertambah melalui belajar.  Belajar adalah memperbanyak asosiasi-asosiasi sehingga membentuk struktur baru dalam jiwa anak atau dengan kata lain disebut belajar membentuk apersepsi.



    b.        Teori belajar Modern: (Teori Belajar Behaviorisme & Kognisi)


Keempat teori dari teori modern dibawah dikelompokkan dalam teori belajar behaviorisme. Pada hakikatnya teori behaviorisme hanya ada dua, yaitu teori Pengkondisian Instrumental dan teori Pengkondisian Operan. Teori ini banyak dilihat pada pengembangan tingkah laku seperti rajin belajar, hidup tertatur, suka olah raga, dan sebagainya. Namun dalam hal memahami, memecahkan masalah, mengkreasikan dan sejenisnya cukup sulit dalam pelaksanaannya.



1.      Teori Belajar Asosiasi atau R.S. Bond, teori ini dicetuskan oleh kelompok Behavioris, dengan tokoh terkenalnya Thorndike. Menurut teori ini, belajar akan terjadi jika ada kontak hubungan  antara orang bersangkutan dengan benda-benda yang diluar. Karena itu kelompok ini juga menamakan  R.S Bond, R adalah respons orang bersangkutan, S adalah S adalah Stimulus dari luar diri seseorang dan Bond adalah hubungan atau asosiasi. Psikologi ini juga disebut psikologi Koneksionisme atau Asosiasisme


Tiga hukum belajar menurut Thorndike, yaitu:


a.  Hukum Kesiapan, artinya setiap anak harus disiapkan terlebih dahulu sebelum menerima pelajaran baru. Kesiapan anak itu terjadi pada sistem urat syaraf, karena semakin anak siap hubungan antara stimulus dan respon akan semakin mudah terbentuk.


b.   Hukum Latihan atau Pengulangan. Hubungan antara stimulus dan respon akan semakin mudah dibentuk bila hubungan itu terus diulang dan dilatih.


c.    Hukum Dampak. Hubungan antara stimulus dan respons akan terjadi bila hubungan itu memberikan dampak menyenangkan.


2.      Teori belajar Pengkondisian Instrumental berawal dari teori belajar Pengkondisian Klasik. Tokoh yang terkenalnya adalah Watson dan Thorndike. Menurut teori ini belajar adalah masalah melekatkan atau menguatkan  respons yang benar dan menyisihkan respons yang salah akibat pemberian hadiah dan tidak dihiraukannya konsekuansi respons yang salah. Respons yang benar diulang-ulang terus sehingga melekat betul pada anak-anak.


3.      Teori Pengkondisian Operan. Teori ini dikenalkan oleh Skinner. Teori Pengkondisian Instrumental memberi kondisi sebelum sebelum respon, teori Pengkondisian Operan memberikan kondisi sesudah terjadinya respon.


4.      Teori Belajar Penguatan atauReinforcement. Teori ini lahir dari Psikologi reinforcement dipimpin oleh Hull. Prinsipnya teori ini sama dengan teori Pengkondisian Operan, teori ini member penguatan pada respon-respon yang benar sesuai harapan. Misal jika anak mendapat nilai tinggi, dipuji atau diberi hadiah atau penghargaan. Kondisi diberikan untuk menguatkan respon yang sudah benar agar dilakukan lagi dan ditingkatkan.


Ada dua teori penguatan, yaitu:


a.       Penguatan positif, setiap stimuls dapat memantapkan respon pada Penkondisian Instrumental, dan setiap hadiah dapat memantapkan respons pada Pengkondisian Operan.


b.      Penguatan Negatif, Setiap stimulus dihilangkan untuk


memantapkan respon terjadi. Misal tidak memberikan tugas-tugas yang terlalu berat, agar siswa rajib belajar.


Perbedaan penguatan Positif dan negatif dengan hukuman, penguatan (positif-negatif) memberikan stimulus positif atau menghilangkan stimulus negatif. Sedangkan hukuman memberikan stimulus negatif atau penghilangan stimulus positif.


5.      Teori belajar  Kognisi, diciptakan oleh Bruner (Connell, 1974 dalam Pidarta, 2013). Teori ini menekankan pada cara individ mengorganisasikan apa yang telah ia alami dan pelajari. Sistem pengorganisasian merupakan kunci untuk memahami tingkah laku seseorang dan sebagai alat untuk berpikir untuk memecahkan masalah. Pendidikan harus mengembangkan ketrampilan berpikir, untuk itu dibutuhkan pelajaran yang terorganisasi dan saling berhubungan satu dengan lain.


6.      Teori Belajar Bermakna, diciptakan oleh Ausubel. Teori ini menekankan pada perorganisasian pengetahuan yang didapat. Organisasi atau struktur kognisi ini dipandang sebagai faktor utama dalam belajar dan mengingat  materi-materi baru yang bermakna.


7.      Teori belajar Insightatau Gestalt, teori ini memandang anak-anak belajar mulai dari suatu yang umum atau keseluruhan. Anak-anak memandang situasi belajar sebagai satu kesatuan atau gestalt dan merespon terhadap keseluruhan itu merupakan suatu yang penting untuk memahaminya. Teorigestalt ini dicontohkan dalam hal memandang muka manusia, jika bagian dari muka manusia itu dilihat satu persatu satu, tidak akan mudah melihatnya sebagai muka manusia, namun jika dilihat secara keseluruhan, maka akan dengan cepat dapat mengatakan bahwa ini muka manusia. Dalam pendidikan, pendidik biasanya memakai teorigestalt dalam hal belajar membaca, menulis, berbicara dengan bahasa asing dan menggambar, dan hasilnya lebih cepat.


8.      Teori Lapangan atauField, teori ini dipelopori oleh Lewin. Lewin menjelaskan prilaku manusia melalui tata cara mereka merespon terhadap faktor-faktor lingkungan, terutama lingkungan sosial. Teori ini juga disebut Teori Ruang Kehidupan. Ruang kehidupan seseorang adalah psikologi tempat orang itu hidup. Ruang kehidupan tersebut berubah dari waktu ke waktu. Dengan menstruktur kembali kekuatan-kekuatan vektornya, seseorang dapat mengisi sesuatu kebutuhan dan menilai kembali situasi itu. Dengan cara ini lebih efektif  menyelesaikan masalah atau mencapai tujuan. Belajar adalah usaha untuk menilai kembali dan mendapatkan kejelasan dari ruang kehidupan, sehingga ruang kehidupan berkembang atau berubah.


9.       Teori belajar Tanda atau Sign, teori ini dipelopori oleh Tolman yang mengatakan bahwa perilaku mengarah pada tujuan. Belajar adalah harapan bahwa stimulus akan diikuti oleh situasi yang lebih jelas. Ini berarti belajar lebih konsen dengan pengertian daripada dengan pengkondisian. Istilah Sign  dapat diartikan muncul tanda-tanda atau kejelasan.


10.    Teori belajar Fenomenologi, teori ini diciptakan oleh Snygg dan Combs, yang memandang individu itu berada dalam keadaan dinamis yang stabil dan memiliki persepsi bersifat fenomenologi. Prilaku ditentukan oleh psikologi atau kenyataan fenomenologi bukan kenyataan objektif yang dapat diamati oleh pancaindera. Belajar adalah proses wajar dan normal sebagai dimensi pertumbuhan dan perkembangan. Belajar adalah hasil perubahan persepsi kita terhadap diri kita sendiri dan lingkungan.


11.     Teori belajar Konstruktifis adalah teori belajar yang membiasakan peserta didik bertindak seperti ilmuan. Peserta didik mencari sendiri ilmu dengan menganalisis fakta-fakta yang ada, kemudian mensintesis, lalu mengambil kesimpulan. Jadi mereka mengkonstruksi sendiri pengetahuan-pengetahuan mereka.


12.       Teori belajar kuantum adalah teori belajar yang berusaha membuat peserta didik merasa antusias seperti halnya dalam kehidupann sehari-hari. Yang diperhatikan dalam pembelajaran adalah lingkungan kondusif, individualitas peserta didik, materi yang menantang, suasana wajar dan pendidik beserta peserta didik sama-sama merasa ditekan.




Oleh :




Riska                  (1888203036)

Shinta Silvia      (1888203008)

Vira Afriani       (1888203009)




Dosen Pengampu :

Mustakim JM., M.Pd




Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

Universitas Lancang Kuning

2018


KATA PENGANTAR


Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai sumber sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
 
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
 
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Landasan Psikologis Pendidikan : Teori Belajar dan Makna Belajar dalam Pendidikan” ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
 
                                                                       

         Pekanbaru, 11Oktober  2018
 


                                                                                                 Penyusun




DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Rumusan Masalah

1.3. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

2.1.      Pengertian Psikologi Pendidikan

2.2.      Psikologi Belajar

2.3.      Teori Belajar

2.4.      Makna Belajar

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA


 DAFTAR ISI


BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar Belakang

Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Aspek kejiwaan manusia yang juga dikaji khusus dalam ilmu psikologi juga memberikan banyak masukan yang dapat diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Pentingnya masalah psikologi dalam pendidikan juga memunculkan kajian ilmu psikologi tersendiri yaitu psikologi pendidikan

Beberapa cabang ilmu psikologi memberikan masukan yang dapat digunakan dalam dunia pendidikan. Konsep-konsep dalam psikologi sosial yang mempelajari manusia yang merespon dan hidup dalam bingkai sosial memberikan masukan yang dapat digunakan para guru dan para siswa dalam melaksanakan peran dalam hidup bermasyarakat. Demikian halnya dengan psikologi belajar yang memberikan banyak masukan bagaimana melaksanakan belajar yang efektif atau psikologi perkembangan yang memberikan masukan kepada dalam mempelajari tahap dan proses perkembangan manusia, cabang-cabang psikologi ini juga memberikan sumbangsih dalam memberikan masukan sebagai sebuah landasan dalam pendidikan.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1              Apakah pengertian psikologi pendidikan?

1.2.2              Apakah yang dimaksud teori belajar?

1.2.3              Apasaja Teori belajar itu?

1.2.4              Apa perbedaan teori belajar klasik dan modern

1.2.5              Apakah yang dimaksud makna belajar?

1.3. Tujuan

1.3.1              Mengetahui  pengertian landasan psikologi pendidikan

1.3.2              Mengetahui tentang teori belajar

1.3.3              Mengetahui apa saja teori belajar tersebut

1.3.4              Mengetahui perbedaan antara teori belajar modern dan klasik

1.3.5              Mengetahui tentang makna belajar



BAB IIPEMBAHASAN


2.1.      Pengertian Psikologi Pendidikan

Menurut Pidarta (2007:194) Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis pendidikan merupakan suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu dalam upaya mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.

Psikologi berasal dari kata Yunani “psyche” yang artinya jiwa. Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti : “ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya”. Namun pengertian antara ilmu jiwa dan psikologi sebenarnya berbeda atau tidak sama (Yudhawati dan Dani Haryanto, 2011:1).

·         Ilmu jiwa adalah  ilmu jiwa secara luas termasuk khayalan dan spekulasi tentang jiwa itu.

·     Ilmu psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah.

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala kejiwaan yang ditampakkan dalam bentuk perilaku baik manusia ataupun hewan yang pemanfaatannya untuk kepentingan manusia ataupun aktivitas-aktivitas individu baik yang disadari ataupun yang tidak disadari yang diperoleh melalui suatu proses atau langkah-langkah ilmiah tertentu serta mempelajari penerapan dasar-dasar atau prinsip-prinsip, metode, teknik, dan pendekatan psikologis untuk memahami dan memecahkan masalah-masalah dalam pendidikan. Kondisi psikologis adalah kondisi karakteristik psikofisik manusia sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksinya dengan lingkungan. Perilaku merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupan baik yang tampak maupun tidak tampak, seperti perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik.

·         Kognitif yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran kata pikiran terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

·         Afektif yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup.

·         Sikomotorik yaitu kemepuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks,  penyesuaian pola gerakan dan kreativitas.

Menurut Sugihartono dkk (dalam Irham dan Novan, 2013:19) pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses pengajaran dan pelatihan. Dengan demikian pendidikan merupakan usaha manusia mengubah prilaku menuju kedewasaan dan mandiri melalui kegiatan yang direncanakan dan sadar dengan pembelajaran yang melibatkan pendidik dan peserta didik.

Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar (Tirtarahardja & Sulo, 2008: 106). Kecerdasan umum (intelegensi) atau kecerdasan dalam bidang tertentu (bakat) dipengaruhi oleh kemampuan potensial, namun kemampuan potensial itu hanya akan aktual apabila dikembangkan dalam situasi yang kondusif. Kecerdasan aktual terbentuk karena adanya pengalaman.


Definisi psikologi pendidikan menurut Whiteringtone (dalam Irham dan Novan, 2013:18) adalah sebuah studi yang sistematis tentang faktor-faktor dan proses kejiwaan yang berhubungan dengan pendidikan manusia. Sebagai cabang ilmu psikologi, psikologi pendidikan mempelajari tentang penerapan berbagai teori-teori psikologi dalam dunia pendidikan terhadap peserta didik dan pendidik dalam proses pembelajaran. Aplikasi dalam praktik proses pembalajaran diwujudkan dalam usaha-usaha yang dilakukan pendidik untuk memunculkan sikap dan prilaku diharapkan, atau mengurangi bahkan menghilangkan sikap dan prilaku yang tidak diinginkan pada peserta didik selama proses pembelajaran.

Psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi yang dalam penguraian dan penelitiannya lebih menekankan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mental, yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar.

2.2.      Psikologi Belajar

Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku.  Kedua, perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar.

Definisi Belajar “ Learning is a change in human disposition or capability that persist over a periode of time and is not simply ascribable to proccess” atau belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan. (Gagne, 1985dalam Modul UT, 2004:1.2).

Belajar adalah perubahan prilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya kepada orang lain.

Prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai berikut:

1.   Kontiguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik   tentang respon anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturut-turut.

2.     Pengulangan, situasi dan respon anak  diulang-diulang atau dipraktikkan agar  belajar lebih sempurna dan lebih tahan lama diingat.

3.    Penguatan, respons yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan         dan menguatkan respons itu.

4.   Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar

5.    Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktifitas anak- anak.

6.    Ada upaya membangkitkan ketrampilan intelektual untuk belajar, seperti apersepsi dalam mengajar.

7.    Ada strategi yang tepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam faktor dalam pengajaran.

8.    Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam  pengajaran.

Tiga poin pertama merupakan faktor-faktor eksternal dan poin ke-4 sampai poin 8 merupakan faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan belajar. Faktor eksternal lebih banyak ditangani oleh guru, sedangkan faktor internal dikembangkan sendiri oleh anak dibawah arahan dan strategi mengajar dalam mendidik.

2.3.      Teori Belajar

Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola  tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini selanjutnya lazim disebut denganTeori Belajar.

Teori belajar yang telah disusun secara sistematik (Callahan 1983, dalam Made Pidarta 2013) adalah sebagai berikut :

a.                Teori Belajar Klasik:

Teori-teori klasik diperoleh oleh seorang ahli sosiologi Rusia bernama Ivan Pavlo pada awal tahun 1900an. Untuk mengahasilkan teori ini Ivan Pavlo melakukan suatu eksperimen secara sistematis dan seintifik, dengan tujuan mengakaji bagaimana pembelajaran berlaku pada suatu organisme.

Pavlo melakukan suatu eksperimen terhadap anjing. Dia meletakkan secara rutin bubur daging didepan mulut anjing. Anjing mengeluarkan air liur. Air liur yang dikeluarkan oleh anjing merupakan suatu stimulus yang diasosiasikan dengan makanan. Pavlo juga menggunakan loncong sebelum makanan diberikan.

Berdasarkan hasil ekperimen Pavlo diperoleh suatu kesimpulan bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal dengan teori pengkodisian klasik.

Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus. (santrock, 2010). Dalam pengkondisian klasik stimulus netral (seperti melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (seperti makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk menghasilkan respon yang sama.

Dalam teori pengkondisian klasik ada dua tipe stimulus dan dua tipe respon yaitu:

a.        Unconditioned stimulus adalah sebuah stimulus yang secara otomatis mengahasilkan respon tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Pavlov makanan adalah US.

b.       Unconditioned respon adalah respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US, dalam ekperimen Pavlo air liur anjing yang merespon makanan adalah UR.

c.        Conditioned stimulus adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya mengahasilkan CR setelah diasosiasi dengan US. Dalam eksperimen pavlo beberapa penglihatan dan suara yang terjadi dalam anjing menyantap makanan.

d.       conditioned  respon adalah respon yang dipelajari yang muncul setelah terjadi pasangan US –CS.

Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlo diperoleh kesimpulan

bekenaan dengan beberapa cara perubahan tingkah laku yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, yaitu:

1)   Generalization (generelisasi)

Adalah pengaruh dari stimulus yang baru untuk menghasilkan respon yang sama. Misalnya: murid dimarahi karena ujian biologinya buruk. Saat murid untuk ujian kimia dia juga akan menjadi gugup karena dua pelajaran tersebut saling berkaitan. Jadi murid menggeneralisasikan satu ujian mata pelajaran denga mata pelajran yang lain.

2)        Discrimination

Descrimination dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespon stimulus tertentu tetapi tidak merespon stimulus lainya. Dalam kasus murid yang mengikuti ujian dikelas, dia begitu gugup saat menempuh ujian pelajaran bahasa indonesia atau sejarah karena kedua mata pelajaran tersebut jauh berbeda dengan mata pelajaran kimia dan biologi.

3)              Pelenyapan

Suatu stimulus yang dikodisikan tidak diikuti dengan stimulus yang tidak dikondisikan, lama-kelamaan organisme tidak akan merspon. Ini berarti bahwa respon secara bertahap terhapus.murid yang gugup mengikuti ujian akan mulai menempuh tes dengan lebih baik, dan kecemasannya mereda.

Pembelajaranan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Pembelajaran tradisional merupakan pembelajaran dimana secara umum, pusat pembelajaran berada pada guru, dan menempatkan siswa sebagai objek dalam belajar. Jadi, disini guru berperan sebagai orang yang serba bisa dan sebagai sumber belajar. Pembelajaran tradisional ini dekenal dengan pembelajaran behavioristik.

Sistem pembelajaran tradisional memiliki ciri bahwa pengelolaan pembelajaran ditentukan oleh guru. Peran siswa hanya melakukan aktifitas sesuai dengan petunjuk guru. Model tradisional ini lebih menitik beratkan upaya atau proses menghabiskan materi pelajaran, sehingga model tradisional lebih berorientasi pada teks materi pelajaran. Guru cenderung menyampaikan materi saja, masalah pemahaman atau kualitas penerimaan materi siswa kurang mendapatkan perhatian secara serius.

            Beberapa contoh teori belajar dengan menggunakan teori klasik :

1.        Teori Belajar Disiplin mental Theistik berasal dari Psikologi Daya atau Psikologi Fakulti. Menurut teori ini individu atau anak memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, perhatian, kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan, dan sebagainya. Masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan. Sehingga belajar juga kadang disebut melatih daya.

2.         Teori Belajar Disiplin Mental Humanistik bersumber dari aliran Psikologi Humanistik Klasik ciptaan Plato dan Aristoteles. Teori ini sama seperti teori disiplin Theistik, semakin sering melatih daya, maka daya akan semakin kuat, dengan daya yang kuat, kemampuan memecahkan berbagai permasalahan, yang berbeda hanya pada proses latihannya. Pada Disiplin Theistik, melatih daya anak hanya pada bagian demi bagian dari potensi anak, Disiplin Humanistik menekankan pada keseluruhan sebagai potensi individu secara utuh.

3.        Teori Belajar Naturalis atau Aktualisasi diri pangkal dari Psikologi Naturalis Romantik yang dipimpin oleh Rousseau. Menurut teori ini setiap anak memiliki sejumlah potensi atas kemampuan. Kemampuan pada anak selain dilatih oleh guru, harus dikembangkan oleh anak itu sendiri. guru dan lingkungan harus menciptakan siatuasi yang permisif atau rileks, sehingga anak dapat berkembang secara bebas dan alami.

4.         Teori Belajar Apersepsi berasal dari Psikologi Struktur ciptaan Herbart. Psikologi memandang, jiwa manusia merupakan struktur yang bisa berubah dan bertambah melalui belajar.  Belajar adalah memperbanyak asosiasi-asosiasi sehingga membentuk struktur baru dalam jiwa anak atau dengan kata lain disebut belajar membentuk apersepsi.


    b.        Teori belajar Modern: (Teori Belajar Behaviorisme & Kognisi)

Keempat teori dari teori modern dibawah dikelompokkan dalam teori belajar behaviorisme. Pada hakikatnya teori behaviorisme hanya ada dua, yaitu teori Pengkondisian Instrumental dan teori Pengkondisian Operan. Teori ini banyak dilihat pada pengembangan tingkah laku seperti rajin belajar, hidup tertatur, suka olah raga, dan sebagainya. Namun dalam hal memahami, memecahkan masalah, mengkreasikan dan sejenisnya cukup sulit dalam pelaksanaannya.


1.      Teori Belajar Asosiasi atau R.S. Bond, teori ini dicetuskan oleh kelompok Behavioris, dengan tokoh terkenalnya Thorndike. Menurut teori ini, belajar akan terjadi jika ada kontak hubungan  antara orang bersangkutan dengan benda-benda yang diluar. Karena itu kelompok ini juga menamakan  R.S Bond, R adalah respons orang bersangkutan, S adalah S adalah Stimulus dari luar diri seseorang dan Bond adalah hubungan atau asosiasi. Psikologi ini juga disebut psikologi Koneksionisme atau Asosiasisme

Tiga hukum belajar menurut Thorndike, yaitu:

a.  Hukum Kesiapan, artinya setiap anak harus disiapkan terlebih dahulu sebelum menerima pelajaran baru. Kesiapan anak itu terjadi pada sistem urat syaraf, karena semakin anak siap hubungan antara stimulus dan respon akan semakin mudah terbentuk.

b.   Hukum Latihan atau Pengulangan. Hubungan antara stimulus dan respon akan semakin mudah dibentuk bila hubungan itu terus diulang dan dilatih.

c.    Hukum Dampak. Hubungan antara stimulus dan respons akan terjadi bila hubungan itu memberikan dampak menyenangkan.

2.      Teori belajar Pengkondisian Instrumental berawal dari teori belajar Pengkondisian Klasik. Tokoh yang terkenalnya adalah Watson dan Thorndike. Menurut teori ini belajar adalah masalah melekatkan atau menguatkan  respons yang benar dan menyisihkan respons yang salah akibat pemberian hadiah dan tidak dihiraukannya konsekuansi respons yang salah. Respons yang benar diulang-ulang terus sehingga melekat betul pada anak-anak.

3.      Teori Pengkondisian Operan. Teori ini dikenalkan oleh Skinner. Teori Pengkondisian Instrumental memberi kondisi sebelum sebelum respon, teori Pengkondisian Operan memberikan kondisi sesudah terjadinya respon.

4.      Teori Belajar Penguatan atauReinforcement. Teori ini lahir dari Psikologi reinforcement dipimpin oleh Hull. Prinsipnya teori ini sama dengan teori Pengkondisian Operan, teori ini member penguatan pada respon-respon yang benar sesuai harapan. Misal jika anak mendapat nilai tinggi, dipuji atau diberi hadiah atau penghargaan. Kondisi diberikan untuk menguatkan respon yang sudah benar agar dilakukan lagi dan ditingkatkan.

Ada dua teori penguatan, yaitu:

a.       Penguatan positif, setiap stimuls dapat memantapkan respon pada Penkondisian Instrumental, dan setiap hadiah dapat memantapkan respons pada Pengkondisian Operan.

b.      Penguatan Negatif, Setiap stimulus dihilangkan untuk

memantapkan respon terjadi. Misal tidak memberikan tugas-tugas yang terlalu berat, agar siswa rajib belajar.

Perbedaan penguatan Positif dan negatif dengan hukuman, penguatan (positif-negatif) memberikan stimulus positif atau menghilangkan stimulus negatif. Sedangkan hukuman memberikan stimulus negatif atau penghilangan stimulus positif.

5.      Teori belajar  Kognisi, diciptakan oleh Bruner (Connell, 1974 dalam Pidarta, 2013). Teori ini menekankan pada cara individ mengorganisasikan apa yang telah ia alami dan pelajari. Sistem pengorganisasian merupakan kunci untuk memahami tingkah laku seseorang dan sebagai alat untuk berpikir untuk memecahkan masalah. Pendidikan harus mengembangkan ketrampilan berpikir, untuk itu dibutuhkan pelajaran yang terorganisasi dan saling berhubungan satu dengan lain.

6.      Teori Belajar Bermakna, diciptakan oleh Ausubel. Teori ini menekankan pada perorganisasian pengetahuan yang didapat. Organisasi atau struktur kognisi ini dipandang sebagai faktor utama dalam belajar dan mengingat  materi-materi baru yang bermakna.

7.      Teori belajar Insightatau Gestalt, teori ini memandang anak-anak belajar mulai dari suatu yang umum atau keseluruhan. Anak-anak memandang situasi belajar sebagai satu kesatuan atau gestalt dan merespon terhadap keseluruhan itu merupakan suatu yang penting untuk memahaminya. Teorigestalt ini dicontohkan dalam hal memandang muka manusia, jika bagian dari muka manusia itu dilihat satu persatu satu, tidak akan mudah melihatnya sebagai muka manusia, namun jika dilihat secara keseluruhan, maka akan dengan cepat dapat mengatakan bahwa ini muka manusia. Dalam pendidikan, pendidik biasanya memakai teorigestalt dalam hal belajar membaca, menulis, berbicara dengan bahasa asing dan menggambar, dan hasilnya lebih cepat.

8.      Teori Lapangan atauField, teori ini dipelopori oleh Lewin. Lewin menjelaskan prilaku manusia melalui tata cara mereka merespon terhadap faktor-faktor lingkungan, terutama lingkungan sosial. Teori ini juga disebut Teori Ruang Kehidupan. Ruang kehidupan seseorang adalah psikologi tempat orang itu hidup. Ruang kehidupan tersebut berubah dari waktu ke waktu. Dengan menstruktur kembali kekuatan-kekuatan vektornya, seseorang dapat mengisi sesuatu kebutuhan dan menilai kembali situasi itu. Dengan cara ini lebih efektif  menyelesaikan masalah atau mencapai tujuan. Belajar adalah usaha untuk menilai kembali dan mendapatkan kejelasan dari ruang kehidupan, sehingga ruang kehidupan berkembang atau berubah.

9.       Teori belajar Tanda atau Sign, teori ini dipelopori oleh Tolman yang mengatakan bahwa perilaku mengarah pada tujuan. Belajar adalah harapan bahwa stimulus akan diikuti oleh situasi yang lebih jelas. Ini berarti belajar lebih konsen dengan pengertian daripada dengan pengkondisian. Istilah Sign  dapat diartikan muncul tanda-tanda atau kejelasan.

10.    Teori belajar Fenomenologi, teori ini diciptakan oleh Snygg dan Combs, yang memandang individu itu berada dalam keadaan dinamis yang stabil dan memiliki persepsi bersifat fenomenologi. Prilaku ditentukan oleh psikologi atau kenyataan fenomenologi bukan kenyataan objektif yang dapat diamati oleh pancaindera. Belajar adalah proses wajar dan normal sebagai dimensi pertumbuhan dan perkembangan. Belajar adalah hasil perubahan persepsi kita terhadap diri kita sendiri dan lingkungan.

11.     Teori belajar Konstruktifis adalah teori belajar yang membiasakan peserta didik bertindak seperti ilmuan. Peserta didik mencari sendiri ilmu dengan menganalisis fakta-fakta yang ada, kemudian mensintesis, lalu mengambil kesimpulan. Jadi mereka mengkonstruksi sendiri pengetahuan-pengetahuan mereka.

12.       Teori belajar kuantum adalah teori belajar yang berusaha membuat peserta didik merasa antusias seperti halnya dalam kehidupann sehari-hari. Yang diperhatikan dalam pembelajaran adalah lingkungan kondusif, individualitas peserta didik, materi yang menantang, suasana wajar dan pendidik beserta peserta didik sama-sama merasa ditekan.


Dari uraian teori-teori belajar diatas, dapat disimpulkan,  sebagai berikut:

·         Teori belajar klasik masih tetap dapat dimanfaatkan, antara lain untuk menghapal perkalian dan melatih soal-soal (Disiplin Mental). Teori Naturalis bisa dipakai dalam pendidikan luar sekolah terutama pendidikan seumur hidup.

·         Teori belajar behaviorisme bermanfaat dalam mengembangkan perilaku-perilaku nyata, seperti rajin, mendapat skor tinggi, tidak berkelahi dan sebagainya.

·         Teori-teori belajar kognisi berguna dalam mempelajari materi-materi yang rumit yang membutuhkan pemahaman, untuk memecahkan masalah dan untuk mengembangkan ide (Pidarta, 2013:210).

2.4.      Makna Belajar

Makna belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Arti dan Makna Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.

Mempelajari dalam arti memahami fakta-fakta sama sekali berlainan dengan menghafalkan fakta-fakta. Keberhasilan suatu program pengajaran diukur berdasarkan tingkatan perbedaan cara berfikir, merasa dan berbuat para pelajar sebelum dan sesudah memperoleh pengalaman-pengalaman belajar dalam menghadapi situasi yang serupa. Dengan kata lain, bila suatu kegiatan belajar telah berhasil, maka seharusnya berubah pulalah cara-cara pendekatan pelajar yang bersangkutan dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya.

Untuk menangkap isi dan pesan belajar, maka dalam belajar tersebut individu menggunakan kemampuan pada ranah kognitif, yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran yang terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Yang kedua yaitu pada ranah afektif, yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian/penentuan sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup, dan yang terakhir pada ranah psikomotorik, yaitu kemampuan yang mengutamakan ketrampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, dan kreatifitas. Orang dapat mengamati tingkah laku orang telah belajar setelah membandingkan sebelum belajar. Dengan belajar dari ketiga ranah tersebut maka akan makin bertambah baik berlangsungnya kegiatan pembelajaran.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan amat tergantung pada proses belajar dan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa itu disekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri. Tiap ahli psikologi membeir batasan yang berbeda tentang belajar, atau terdapat keragaman dalam cara menjelaskan dan mendefinisikan makna belajar. Di antaranya dapat di kemukakan yaitu, Hilgard dan Marquis berpendapat bahwa belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi pada diri seseorang melalui latihan, pembelajaran dan sebagainya sehingga terjadi perubahan dalam diri seorang pendidik.

Tujuan merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu pekerjaan/ kegiatan.Tidak ada suatu pekerjaan atau kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena hal ini merupakan arah, target akhir dan prosedur yang dilakukan. Tidak lain juga dengan pendidikan, tujuan pendidikan dan pengajaran merupakan suatu cita-cita yang bernilai normatif.

Pupuh Faturahman (2007: 13) tujuan mempunyai jenjang dari yang luas atau umum sampai kepada yang sempit/khusus.Semua tujuan itu berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Bila tujuan terendah tidak tercapai , maka tujuan diatasnya juga tidak tercapai pula. Hal ini disebabkan karena tujuan berikutnya merupakan turunan dari tujuan sebelumnya. Tujuan memiliki nilai yang sangat penting di dalam pengajaran, karena tujuan merupakan factor yang terpenting dalam kegiatan dan proses belajar mengajar.

Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan tugas belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan,keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa. tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar.

Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa,mata ajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yan hendak dicapai dan dikembangkan dan diapresiasikan. Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan.Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa dan dia harus mampu menulis dan memilih tujuan pendidikan yang bermakna dan dapat diukur.

Suatu tujuan pembelajaran seyogyanya memenuhi kriteria sebagai berikut:

Komentar